Ceritanya begini, suatu hari saya terlibat diskusi dengan seorang teman (sebut saja Jono umur 40-an, menikah 2 anak) yang kebetulan bekerja di Health Science Industry, dalam hal ini Rumah Sakit ternama. Iseng-iseng saya tanya kenapa pakai aplikasi XXX ini? kebetulan RS teman saya ini punya budget yang hampir unlimited untuk membeli tetek bengek keperluan rumah sakit.
“Waktu itu udah beauty contest juga, terus yang paling OK ya aplikasi XXX ini mas”
“Oh gitu, emang market leadernya di SI rumah sakit ini apa pak?” Rasa ingin tahuku kembali muncul.
“Engg siapa ya…” Jono terdiam sebentar, berpikir.
“Repot ya pak kalau industri spesifik seperti ini, nyari market leadernya aja ga ada” Saya bercanda sekenanya.
“Oh ada pak, NovaSprint, paling bagus itu untuk RS. Kita panggil juga dia di beauty contest, dah overview segala. Tapi punya Novasprint tergolong mahal, jadi kita ga pake dia” Pak Jono kemudian mendongeng sedikit tentang cerita vendor selection di RS-nya
“Saya tahu Novasprint pak, yang singapore punya itu ya? saya dengar memang bagus, leader dia”
Dalam prakteknya dilapangan, masalah vendor selection ini merupakan masalah yang cukup pelik. Beda kalau produk yang dibeli harganya sudah fix, semisal mobil 4WD untuk ditambang. Meskipun dalam skala mass project pun angka mobil 4WD ini masih bisa dibayangkan. Tapi kalau harus Sistem Informasi, kalau harus konsultasi marketing, kalau harus strategic management. Masalah pricing seharusnya berapa ini bisa jadi rumit.
Lha wong jangankan SI kelas gurem, major ERP macem Oracle atau SAP pun berani banting-bantingan harga biar bisa masuk ke satu perusahaan.
“Ya kita berani rugi Njar, biar dapet untung lebih gede belakangan”
Sebenarnya ada satu cara yang paling gampang yaitu menyewa konsultan untuk proses pembelian, vendor selection dkk. Contoh, Pemerintah Amerika menyewa Accenture, untuk menjadi konsultan, biar pemerintah Amerika bisa dapet barang yang kualitasnya bagus. Tapi apa yang terjadi, justru Accenture melakukan penipuan dengan bekerja sama dengan vendor. Jreng-jreng Accenture dituntut $30 juta. Detail ceritanya di tulisannya Aresto. Repot kan, ini untuk dikampung orang, apalagi di Indonesia kan, harusnya hal beginian lebih parah disini. Ga perlu diajarin lah ma Accenture luar.
Nah berkaitan dengan itu, kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya. Bagaimana cara vendor selection yang paling baik, saya jawab:
“…Cari aja forum, asosiasi atau independent yang bisa kasih review dan pricing strategi aplikasi tersebut. Suruh mereka buka harganya berapa. Dalilnya dalam industri yang sama tidak mungkin terjadi gap yang besar…”
Berikut sedikit (sekali) data yang saya miliki tentang peta Sistem Informasi Rumah Sakit. Setahu saya, sebagian besar SI RS didevelop sendiri oleh rumah sakit tersebut. Mungkin ada yang ingin menambahkan?
Buy / Package
1. Novasprint (Successfull client: RS Pondok Indah)
Price: IDR 1.5M, Unlimited user, Hospital Transactional Only
2. Qpro Sukses Mandiri (Best ISV by Microsoft Indonesia)
Price: <>
In house Development
1. RS Pertamina Jaya, Cempaka Putih: Suse, Postgre
Price: IDR?
Mei 4, 2007 pukul 3:54 am
wah mas… utk pembahasan massalah yg ini saya bener-bener ngga ngerti sama istilah-istilah nya… hehehehehe
Mei 4, 2007 pukul 6:03 am
Sepertinya hal ini masalah klasik terjadi dalam pembelian barang IT ya Mas. Mungkin tidak cuman di RS. Sudah mau milih vendor , spec yang dibutuhkan belum jelas. Berhubung budget unlimited semua dibeli…..maunya yang terbagus……tapi menurut siapa, kriterianya apa?, Ini lah awal kejadian resource IT berlebih tapi ga bisa support kegiatan bisnis. Alias pengadaan IT tidak selaras dengan tujuan bisnis he…..he….
Yang begini bakal jadi proyeknya Mas Anjar….
Mei 5, 2007 pukul 4:01 am
Menurut saya, baik buruknya suatu sistem RS, tidak bisa dintinjau melulu dari sisi feature sistem tsb.
Antara 1 RS dan RS lainnya, berbeda SOP-nya. SIM RS yang baik menurut saya adalah yg paling match dengan SOP rumah sakit bersangkutan.
Karena saya juga sudah sering dengar baik NOVA maupun QPRO juga ada success story tapi juga ada sad story di-mana2. Jadi gak bisa dipukul rata penilainnya…….
SAP aja juga blm tentu bisa selalu sukses implementasinya. Dan harga di atas juga tidak bisa dijadikan patokan, karena biasanya yg paling mahal bukan harga softwarenya, tapi implementation cost-nya. Nah, ini yang sering dilupakan.
Kenapa implementation cost RS di Indonesia tinggi, salah satu penyebabnya menurut saya adalah karena SOP yang tidak standard dan baku.
Kalo SOP-nya saja bermasalah, gimana bisa punya IT yang bagus. Nah di dalam kasus RS bermasalah SOP tsb, saya yakin NOVA pun bisa fail…………………….
Terima kasih atas kesempatannya Mas Anjar, good article…………….
Mei 5, 2007 pukul 9:59 am
tergantung sapa yang bisa ngasi persenan lebih gede kan ? :D
Mei 6, 2007 pukul 1:57 pm
Menurut saya sim-rs terbaik, adalah yg match dengan kebutuhan dan SOP di RS bersangkutan.
Jadi antara 1 RS dan RS lainnya, bisa berbeda.
Kalo melulu hanya melihat merk, blm tentu menjamin keberhasilan juga.
Kalo dari segi features, saya setuju NOVARTIS bagus, tapi kalo dari segi implementasi, saya juga sudah sering mendengar ttg success story maupun sad story ttg software2 ini, termasuk QPRO.
Kalo dari segi harga, kebanyakan proyek sim-rs di Indonesia, kurang memperhatikan ttg implementation costs. Padahal cost inilah yang biasanya membengkak.
Harga softwarenya gak seberapa, tapi implementation cost bisa membludak sampe 4/5 x harga softwarenya.
Jadi sekali lagi harga software gak bisa untuk patokan cost.
Inti permasalahan adalah karena kebanyakan SOP RS di Indonesia gak baku dan standard. Sehingga implementasinya bisa painfull, karena proses customizing yang rumit.
Research INDC cukup memberi bukti bahwa implementasi application software –> 70% fail (fail to meet the deadline, etc).
Ttg hire konsultan untuk pembelian, saya setuju banget. Jadi bisa lebih obyektif, moga2, gak melulu ngeliat amplopnya……….he9x
Semoga bisa memberi pencerahan.
For Mas Anjar : good article……………………..
Oktober 2, 2007 pukul 3:24 am
Saya dari rumah-sakit swasta yang sudah menggunakan jasa dan produk SIM-RS dari QPRO dan semua berjalan dengan lancar dan dalam tempo kurang dari 6 bulan sistem tersebut sudah running well. Kami salut dengan metoda implementasi yang digunakan oleh QPRO sehingga pihak kami dengan mudah mengikuti proses implementasi tersebut. Dalam pertemuan dengan kolega di rumah sakit malahan ada yang menyebutkan produk QPRO kualitas internasional harga lokal. Bravo untuk QPRO dan tim
Oktober 4, 2007 pukul 11:11 pm
Saya salah satu pengembang SIM RS lokal , dan alhamdulillah sudah sukses dipakai di 17 Rumah Sakit di Jabodetabek , menyusul beberapa rumah sakit yang lagi taraf negosiasi . SIM RS tidak dibuat hanya untuk mengcover front office saja ( transaction modul only ) tetapi memuat proses back office ( sampai GL /payroll ) dan terutama report medis yang berbasis patient base (electronic medical record , RL 1-6 , BOR , LOS , dll ) . Setiap RS punya SOP sendiri - sendiri yang rata - rata tidak sama , karena itu saya menyediakan fasilitas customizasi sebelum implementasi disesuaikan dengan proses bisnis masing masing rumah sakit . Fitur - fitur yang ada tidak kalah dengan vendor dari luar , justru kami mendevelopnya disesuaikan dengan iklim bisnis Rumah Sakit di Indonesia . Selain design dalam windows kami juga menyediakan dalam webbase didukung oleh teknologi .NET . Multiuser , Multitarif , Full Integrated System , dan masih banyak fasilitas lain yang tidak Anda dapatkan di SIM RS yang lain . Implementasi biasanya antara 2 sampai 6 bulan tergantung kemampuan rumah sakit . Harga cukup ekonomis dibandingkan vendor diatas , bahkan saya menyediakan sistem KSO untuk klinik atau rumah sakit yang berminat .Saya berharap kedepan , semua pelayanan kesehatan di Indonesia dapat mengakses SIM RS dengan harga terjangkau dan aplicable . Untuk informasi lebih lanjut bisa kontak langsung ke 0813 8001 88 80 ( dr_lastri ).
Oktober 22, 2007 pukul 8:49 am
yang namanya jualan pasti yang ditampilkan adalah sukses story dan pasti menutup-nutupi fail storynya, tidak dipungkiri kami dari amandasoft (www.amandasoft.net) juga pernah mengalami kegagalan implementasi (kemoloran waktu) itu karena kita dihadapkan pada SOP rs yang cenderung tidak sama antara satu rs dan rs yang lain seperti yang diungkapkan oleh pak Tonny Loekito, PT.Rent@Soft, tapi kita juga pernah implementasi rs sudah jalan dalam waktu 2 bulan dari Front office sampai backoffice dikarenakan dukungan dari pihak management.
menurut saya ada beberapa yang menjadi faktor pendukung dari keberhasilan implementasi rs yaitu
1. tentu softwarenya harus bagus dan modulnya lengkap.
2. dukungan full dari pihak management.
3. kecakapan user dalam menggunakan sim rs
4. penyesuaian sop rs sebelum implementasi.
5. Dukungan tenaga medis konsultan (terutama dokter) dari vendor pembuat sim rs tersebut.
apabila kelima aspek itu terpenuhi maka SIM RS akan berjalan dengan baik dan benar, masalah SOP RS diindonesia sebenarnya hampir sama, mungkin hanya beda istilah saja antara satu rs dengan rs yang lain.
sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net
Desember 26, 2007 pukul 12:08 pm
Ada beberapa aplikasi lain, jika berkeinginan menggunakan web based untuk produk teramedik. kalo nggak salah lihat di http://www.terakorp.com
Januari 24, 2008 pukul 4:33 am
Saya adalah salah satu pengembang SIMRS sejak tahun 2003, dan saat ini produk yang kami kembangkan mempunyai brand “Medifirst2000″ dengan 18 modul terintegrasi.
Saya juga melihat bahwa SOP dari masing2 rumah sakit berbeda2 terutama masalah kebijakan di keuangan. Mungkin untuk masalah rekam medis pasien, mempunyai kemiripan dan biasanya implementasi di bagian ini (rekam medis pasien) bisa cuman 1 minggu. Tapi jika sudah masuk ke bagian keuangan, terutama Billing Pasien, apalagi sampai ke pembagian jasa dan REMUNERASI, itu akan memakan waktu. Yang saya lihat selama ini, disebabkan 3 faktor :
1. Perlakuan keuangan per rumah sakit mempunyai kebijakan sendiri, apalagi perbedaan antara RS Pemerintah (Baku tapi kadang tak sama untuk akuntansi) dengan RS Swasta pasti berbeda
2. Faktor SDM ; adalah faktor yang sangat menentukan. Operator dilapangan (entry data) adalah ujung tombak untuk jalannya SIMRS ini. Saya banyak melihat dilapangan karena ada “faktor-faktor tersembunyi” data pasien apalagi pembayaran (validasi) tidak diinput.
3. Software SIMRS yg baku tidak akan bs masuk, mengcover karakteristik rmah sakit. Jadi harusnya “Tailor Made”, customize sesuai karakteristik RS bersangkutan. Tapi kelemahan “Tailor Made” adalah proses pembuatan yg tidak singkat.
Kesimpulan terakhir saya :
Apabila RS pengen implementasi SIMRS, ada baiknya menggunakan sistem berikut :
1. KSO selama beberapa tahun, sehingga karakteristik RS tersebut tercover dan RS mempunyai kemandirian dengan mengembangkan personel/sdm di SIMRS tersebut. Intinya SIMRS memjadi produktif (software house), apalagi sekarang udah BLU
2. Jika ada suatu tender, ada baiknya RS menyiapkan Konsultan Perencana terlebih dahulu untuk mengakomodasi selama pengembangan. Klo tidak…bs cuman pasang…beres..bayar…berantakan.
Sebagai informasi tambahan, saya di PT Jasamedika Saranatama sejak tahun 2003 telah mengcover beberapa RS di JKT dan jawa barat (cianjur/cirebon). Yang terbaru, telah kami implementasikan di RSUD Karawang (kebayang rumsah sakitnya sebesar apa ?)- Sistem KSO 10 thn.
Kemudian RS Haji Surabaya ( 2006) sistem tender, dan berjalan dengan sangat baik, sekarang masuk masa maintenance. Kemudian RSU Kota Semarang(ketileng) tahun 2006 dengan sistem KSO 5 thn. Terakhir RSU Timika, akhir 2007, dengan sistem tender.
Melalui forum ini saya juga berharap, sistem IT di rumah sakit menjadi semakin baik yang tentunya akan lebih memuaskan pelayanan pasien.
Klo ada partner yg bisa sharing dengan saya bs via japri 08170298530 / 022-5436559
thx
Januari 28, 2008 pukul 2:47 am
weks kenalnya koq sama qpro ma nova duank…
klo soal features sama sukses history yang paling bagus ya TrakHelath di sini dah implement di RS gropnya Ramsey seperti RSMI, RS Bintaro & RSSI, lom lagi di thailand, brazil, Afsel, Timteng, dll…
cuma masalahnya ya itu harganya selangit he.. he..
Februari 6, 2008 pukul 6:58 am
komitmen yang tinggi dan tetap tinggi adalah modal dasar dari terlaksananya SIMRS-IT secara berkesinambungan. apapun software aplikasinya & seberapa lengkap modul ( jika dapat dikatakan modul ) yang ada didalamnya jika komitmen manajemen & pegawai tetapi tinggi maka SIMRS-IT akan tetap berjalan dengan baik.
apakah yakin dengan implementasi software aplikasi yang selama beberapa bulan saja dapat dikatakan sebagai suatu prestasi ? emang nya siapa yang menggunakan software tersebut ? pengembang atau pegawai ? pengembang dapat dikatakan berprestasi jika telah membina hubungan yang tidak lagi berdasarkan nilai - nilai di atas kertas. jumlah rumah sakit yang telah terimplementasi bukan suatu ukuran keberhasilan ( kalo pengalaman boleh lah … ).
bagi rumah sakit yang akan mengembangkan SIMRS-IT, saat ini belum ada standar biaya secara untuk software aplikasi SIMRS-IT, jadi berhati - hati lah…jalan keluarnya saat ini adalah menggunakan standar pembiayaan yang dikeluarkan oleh bapenas ( umumnya pengembang mmooohhh )
bagi pengembang SIMRS-IT, gunakan lah software aplikasi yang bebas lisensi…karena umumnya menggunakan software bajakan, contoh software yang sering dibajak adalah : Borland Dephi, Visual Basic, Visual .Net, Access, Clipper, Foxpro, dll ( software yang berbasiskan GUI ). jika anda menggunakan software bajakan dalam membuat program aplikasi SIMRS-IT maka anda ikut menjerumuskan orang lain ke dalam jurang ( itu baru software aplikasi nya loh belom lagi OS & Database ) … jadi jangan bangga jika masih menggunakan software bajakan !
orang yang paling mengerti tentang rumah sakit adalah pegawai rumah sakit itu sendiri … bukan orang lain …
Maret 1, 2008 pukul 2:09 am
memang setiap vendor SIMRS punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Menurut pengamatan saya ada beberapa vendor yang sukses implementasi di rumah sakit tapi hanya bagian front office saja (pendaftaran pasien, rekam medis, r/j,r/i, farmasi dan penunjang medis ) dan sekedar informasi billinglah, tapi begitu menginjak backoffice seperti klaim, hutang, dan gl pada mentok. ini yang saya temui di beberapa rumah sakit. faktornya adalah mereka tidak melibatkan ahli akuntansi dalam implementasi ini, untuk implementasi backoffice programmer atau analyst yang jago koding tdklah cukup untuk melakukannya, harus ada mediator akunting yang pintar dalam melaksanakan implementasi, ini baru bisa berhasil.
sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net
Maret 1, 2008 pukul 2:15 am
saya tambahkan seperti komentar pak bsans, gunakan software lisensi, ada vendor yang jual SIMRS sangat mahal software databasenya masih memakai software bajakan, ini jelas melanggar dan mau untung sendiri, kalau Saya jualan biasanya saya paketin misalnya paket 10 pc sudah termasuk software original baik server maupun klient, dan ini memang menguntungkan kedua belah pihak.
sekedar informasi untuk produk SIM-RS yang baik silahkan lihat di http://www.amandasoft.net
Maret 4, 2008 pukul 6:45 am
sya juga termasuk pengembang lokal..meneurut saya pembuatab SIRS bukan cuma SIM RS harus melihat RSnya juga.. saya yakin kebutuhan setiap RS akan berbeda..kebutuhan tersebut tentu akan menentukan bugdet yang akan di keluarkan..terimakasih.
Mei 26, 2008 pukul 12:43 am
SIMRS terbaik itu tidak bisa dibandingkan.Sama seperti membandingkan mobil balap di sirkuit yang berbeda, cuaca yang berbeda. Mungkin mobil balap A sesuai dengan sirkuit yang sehingga menjadi nomor satu, akan tetapi belum tentu di sirkuit B. Untuk lebih mantap, tanyakan kepada lebih dari satu rumah sakit yang berhasil mengimplementasikan SIMRS, sehingga tidak terpaku pada satu vendor saja. Kumpulkan data - data yang lengkap dari internet atau dari media lain. Cari yang cocok dengan “sirkuit” (baca:rumah sakit) anda. Sehingga anda bisa mencari “setting mesing” yang cocok agak dapat maksimal dipacu di “sirkuit” anda. Sukses selalu
Mei 27, 2008 pukul 8:52 am
saya seorang pengembang SIM-RS Saya setuju denga Bp. I made. menurut pengalaman saya pembuatan aplikasi SIM-RS harus mengikutsertakan pihak manajemen rumah sakit itu sendiri, bukan sekedar budget yang besar, tanpa adanya kerjasama dan keterbukaan manajemen dengan pihak develop maka SIM-RS yang dibuat akan sia-sia saja. banyak terjadi beberapa rumah sakit mebuat SIM-RS padahal sebelumnya mereka sudah pernah membuat tapi tidak cocok dengan sistem manajemn rumah sakit yg ada.
jadi menurut saya pembuatan software Rumah sakit tidak harus fdari luar karena dari pengembang lokal pun sudah banyak yg memahami. dan harganya pun dapat terjangkau oleh pihak rumah sakit tinggal bagaimana kesepakan kerjasama antara pihak RS dengan pengembang sistem.
Juni 13, 2008 pukul 2:27 am
Rumah Sakit Kanker Dharmais sudah beberapa kali gagal membangun SIM-RS, sekarang ini sedang mencari calon-calon Vendor yang haldal. Jika anda berminat silahkan ajukan Proposal ke Direksi RS Kanker Dharmais Jakarta, siapa tau anda beruntung…..
Juli 15, 2008 pukul 5:20 am
Namanya juga marketing, apa lagi marketing freelance yang ga ngerti ttg software SIM-RS, biasanya selalu memberikan angin surga bagi setiap cln pembeli/phk owner Rumah Sakit, padahal ybs sendiri belum tentu sudah koordinasi terelebih dahulu dengan pihak yang mendevolp software tsb. Karena, mereka hanya mengeruk keuntungan berdasarkan fee belaka.
Artinya terkadang software sebagus apapun, kalo marketingnya tdk profesional, sungguh sangat merepotkan.
Good luck buat Amanandasoft Mitra Development
Juli 18, 2008 pukul 10:29 am
70% sistem rumah sakit yang masih berjalan dengan sistem manual walaupun ada sistem yang sudah diaplikasikan.
kendala ini terjadi dikarenakan integrasi yang tidak berjalan dan budget yang tidak diperhatikan dengan bijaksana.
dalam hal ini, diperlukan awareness dari team IT, jajaran Direksi dan Owner. terkait dengan itu adalah sejauh mana kebutuhan sistem tersebut diperlukan.
September 12, 2008 pukul 3:50 pm
baik bagusnya sebua softare SIM-RS akan tergantung pada pemegang regulasi pelaporan kesehatan di indonesia itu sendiri, kadang kala satu sistem berjalan dengan baik di rumah sakit a , tidak menjamin itu akan terjadi pada rumah sakit b, karena SOP yang ada dari tiap2 rumah sakit belum distandarkan yang akhirnya setiap pengadaan sistem informasi yang timbul adalkah mafia mafia tender dengan berbagai cara akhirnya masukal sebuah software tanpa memikirkan dampak yag lebih luas, software dalam negeri pun banyak yang bagus bahkanberjalan di skala rumah kaliber nasionaldan internasional masalahnya koneksitas, dan kekerabatan, saya punya pengelaman di rumah sakit aini jakarta…. masalahnya bisa cair dan bisa bubar oleh seorang pimpinan yayasan .
salam
September 21, 2008 pukul 8:21 am
saya pengamat simrs di beberapa rumah sakit di indonesia,
saya mengamati beberapa vendor besar simrs yang sudah terkenal (exist di rumah2 sakit besar) katanya,
tapi kenyataaanya aplikasi mereka tidak berjalan baik di rumah-rumah sakit tersebut, aplikasi mereka hanya berjalan di bagian FRONT OFFICE saja. pada waktu implementasi backoffice mereka pada mentok dan banyak yang gagal. alasan mereka (vendor simrs red) pihak rumah sakit tidak koperatif, padahal menurut pengamatan saya pihak rumah sakit sudah cukup koperatif menerjunkan team terbaiknya.
Saran saya untuk membeli SIMRS TERBAIK, jangan terpaku demo dari vendor-vendor tersebut, carilah aplikasi yang benar benar sudah siap, lakukan test software tersebut sebelum memutuskan untuk membeli
salam.